INDIA kembali menggeliat menuju tangga teratas bulu tangkis dunia. Terakhir kali negara berpenduduk terbesar kedua sejagat itu diharumkan namanya oleh Prakash Padukone ketika menjadi juara tunggal putra All England pada tahun 1980 silam.
Kini India kembali melahirkan juara baru untuk turnamen yang levelnya juga sekelas dengan All England. Pemain terbaik mereka di sektor putri, Saina Nehwal membuka mata dunia ketika berhasil menembus jajaran 10 besar dunia.
Torehan itu semakin mengkilap ketika dia membuat kejutan dengan merubuhkan tembok China, Wang Lin pada babak final Djarum Indonesia Terbuka Super Series di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Minggu (21/6) lalu.
Menariknya pencapaian tersebut hanya perlu waktu kurang dari setahun. Kesuksesan ini juga tak lepas dari polesan salah satu putra terbaik Indonesia Atiek Jauhari. Ya, terhitung usai Olimpiade 2008, mantan pemain sekaligus pelatih timnas Indonesia ini mulai menjadi pelatih bagi Sania yang masih berusia 19 tahun.
“Saya melatih Saina ketika dia masih masuk jajaran 15 besar dunia tepatnya tahun 2008. Sekarang dia sudah masuk peringkat 10 besar dunia, bahkan bukan tidak mungkin masuk ke peringkat lima besar dunia,” kata Atiek Jauhari.
Faktor pelatih juga tidak akan sejalan jika tidak didukung dari ketekunan si pemain itu sendiri. Saina tergolong atlet yang sangat disiplin dan patuh terhadap instruksi pelatih. Sehari dia menjalani latihan dua kali sehari selama 7,5 jam.
Berbeda dengan Indonesia, pemain India tidak sepenuhnya menghabiskan waktu untuk berlatih bulu tangkis. Olahraga ini tidak termasuk dalam prioritas pembinaan cabang di India dan kalah populer dengan tenis.
“Pemain India lebih mengutamakan pendidikan. Jika turnamen berbarengan dengan kesibukan sekolah, tentunya mereka lebih memilih absen. Jika perlu membawa modul ke tempat pertandingan dengan mendatangkan guru,” ujar Atiek.
Satu hal yang menarik, menurut Atiek, di India pelatih sudah dianggap seperti “dewa”. Selain menghormati orang tua, mereka juga hormat terhadap pelatih.
Masih langkanya atle bulu tangkis asal negeri ini juga disebabkan cabang yang lahir di India itu masih dikategorikan sebagai cabang elite. Hanya kalangan mampu saja yang berkesempatan menekuni olahraga ini. Jadi, tak heran jika kondisi di atas bisa terbentuk.
Selain ditangani Atiek, Saina juga melakoni latihan fisik di bawah bimbingan Kiran Challagundla. “Dalam latihan Saina, kami memasukkan menu peningkatan endurance, power, refleks, dan keseimbangan. Dia sangat disiplin menjalani latihan tersebut,” ujarnya.
Bagaimana dengan pemain Indonesia seperti Maria Kristin Yulianti? Meski sempat meraih medali perunggu Olimpiade 2008, prestasinya semakin menurun. Bahkan, bayang-bayang cedera masih membalutnya. Sedangkan atlet pelapis seperti Linda Weni Fanetri kemampuannya masih belum setara. Masih membutuhkan banyak polesan.
Mengutip pernyataan Atiek, Indonesia sebenarnya memiliki bakat luar biasa di cabang ini. Sekarang tinggal bagimana memaksimalkan potensi tersebut agar terus terjaga.
Ini merupakan pekerjaan rumah bagi Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) dan juga pemain. Jangan sampai kalah di negeri sendiri, meski butuh waktu cukup lama untuk kembali membangun generasi bulu tangkis yang mumpuni.
Selasa, 30 Juni 2009
KING, Menggugah Semangat Nasionalisme Lewat Film
BANYAK cara menggugah rasa cinta Tanah Air. Salah satuya lewat film. Dan di tengah keterpurukan prestasi bulu tangkis nasional, fim KING hadir untuk merengkuh kembali nasionalisme yang kian pudar.
Prestasi bulu tangkis Indonesia kini suram. Hanya satu gelar Super Series sejak awal tahun yang bisa direngkuh anak-anak pelatnas. Di turnamen Piala Thomas dan Uber 2008, Piala Sudirman, bahkan di Djarum Indonesia Terbuka Super Series 2009 kita keok. Indonesia puasa gelar.
Walau prestasi buram, rupanya antusiasme fans bulu tangkis Tanah Air mampu melecut pasangan seniman Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen untuk menyemangati dari sisi lain. Dari perhelatan Piala Thomas-Uber Juni tahun lalu di Istora Senayan, Jakarta, mereka melihat semangat para penonton Indonesia yang rindu prestasi tinggi Merah Putih. Walau Taufik Hidayat dkk kalah, tapi antusiasme tetap berkobar.
"Karenanya kami ingin menciptakan sebuah film bulu tangkis yang belum pernah ada di dunia," ujar Ari, si produser film KING di sela turnamen Indonesia Terbuka beberapa waktu lalu.
Dia melihat selama ini film tinju atau sepak bola lebih banyak beredar. Padahal, Indonesia dikenal sebagai salah satu gudang pebulu tangkis andal. "Kita memiliki banyak pahlawan bulu tangkis di sini. Sebagai insan film, kami hanya bisa memberikan penghargaan dalam bentuk seperti ini," ujarnya.
Tak tanggung-tanggung, Ari yang akrab disapa Ale memberanikan diri menjadi sutradara untuk film ketiga produksi Alenia Pictures, perusahaan yang didirikannya bersama sang istri, Nia Zulkarnaen. Menurut dia, memutuskan menjadi sutradara bukan semata agar hemat biaya. Tapi kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuan. Ale makin percaya diri karena mendapatkan dukungan dari banyak pihak.
Di antara sekian banyak pemain hebat, Nia dan Ari akhirnya memilih sosok Liem Swie King. Mereka termasuk orang yang dengan setia menyaksikan aksi King pada era 1970-an. Tidak hanya itu, mereka melakukan survei untuk menilai kelayakan King sebagai tokoh yang dipilih. Kebetulan, Nia sempat menjabat Humas PB PBSI di masa kepengurusan Sutiyoso yang berakhir pada 2008.
King, pemain yang lahir di Kudus, Jawa Tengah ini namanya melejit sejak mampu menantang Rudy Hartono di final All England 1976 di usia ke-20. King lantas menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan bulu tangkis paling bergengsi di dunia tersebut.
King yang punya nama Indonesia Guntur itu ikut menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978 dan enam kali membela tim Piala Thomas. Bersamanya, tiga kali Indonesia sukses menyabet Piala Thomas. "Ternyata, kisah hidupnya benar-benar menarik. Makanya, kami yakin, film ini akan menarik perhatian penonton," ujar Nia.
Di film itu, berkisah seorang ayah bernama Sambas dan putranya, Guntur, yang begitu cinta bulu tangkis. Sambas bukan siapa-siapa. Dia cuma komentator pertandingan bulu tangkis antarkampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan membuat shuttlecock. Dia sangat mencintai bulu tangkis, utamanya Liem Swie King, sang idola.
Mendengar cerita ayahnya tentang King, Guntur (diperankan Rangga Raditya) bertekad menjadi pemain hebat. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada di hadapannya, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulu tangkis.
Dalam pembuatan film tersebut, Nia dan Ari mengalami kesulitan mencari pemeran. Maklum, Ari sengaja membuat film itu diisi para pemain bulu tangkis sungguhan. Mulai King sendiri, Ivana Lie, Rosiana Tendean, sampai Maria Kristin. Pemeran utama Guntur pun sengaja dicari dari anak umur sekolah dasar yang piawai main bulu tangkis.
"Sudah beratus orang yang diaudisi, tapi rasanya kurang ada yang cocok. Akhirnya, kami ketemu Rangga yang memiliki karakter wajah yang cocok. Sedikit kampung begitu," ucap Ale sambil tertawa.
Lokasi yang dipilih untuk memperkuat jalan cerita kebanyakan berada di Jawa. Mulai Kudus, Banyuwangi, Situbondo, hingga Bondowoso dengan syuting 28 hari.
Rencananya, film KING diputar perdana pada 25 Juni di Jakarta. Meski begitu, Ale menyebutkan, film KING bukan otobiografi sang legenda. Melainkan hanya mengambil spirit dari King yang membawanya menjadi juara dunia dan punya pukulan berjuluk King Smash.
King yang tetap bersahaja dan lemah lembut itu tidak menolak ketika Nia dan Ale meminta izin mengambil kisahnya sebagai sumber cerita film yang akan dibintangi Wulan Guritno dan beberapa pemain cilik itu. "Saya melihat pesan di film ini bertujuan mulia. Saya rasa baik," ucapnya. Delia Mustikasari
Prestasi bulu tangkis Indonesia kini suram. Hanya satu gelar Super Series sejak awal tahun yang bisa direngkuh anak-anak pelatnas. Di turnamen Piala Thomas dan Uber 2008, Piala Sudirman, bahkan di Djarum Indonesia Terbuka Super Series 2009 kita keok. Indonesia puasa gelar.
Walau prestasi buram, rupanya antusiasme fans bulu tangkis Tanah Air mampu melecut pasangan seniman Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen untuk menyemangati dari sisi lain. Dari perhelatan Piala Thomas-Uber Juni tahun lalu di Istora Senayan, Jakarta, mereka melihat semangat para penonton Indonesia yang rindu prestasi tinggi Merah Putih. Walau Taufik Hidayat dkk kalah, tapi antusiasme tetap berkobar.
"Karenanya kami ingin menciptakan sebuah film bulu tangkis yang belum pernah ada di dunia," ujar Ari, si produser film KING di sela turnamen Indonesia Terbuka beberapa waktu lalu.
Dia melihat selama ini film tinju atau sepak bola lebih banyak beredar. Padahal, Indonesia dikenal sebagai salah satu gudang pebulu tangkis andal. "Kita memiliki banyak pahlawan bulu tangkis di sini. Sebagai insan film, kami hanya bisa memberikan penghargaan dalam bentuk seperti ini," ujarnya.
Tak tanggung-tanggung, Ari yang akrab disapa Ale memberanikan diri menjadi sutradara untuk film ketiga produksi Alenia Pictures, perusahaan yang didirikannya bersama sang istri, Nia Zulkarnaen. Menurut dia, memutuskan menjadi sutradara bukan semata agar hemat biaya. Tapi kesempatan besar untuk menunjukkan kemampuan. Ale makin percaya diri karena mendapatkan dukungan dari banyak pihak.
Di antara sekian banyak pemain hebat, Nia dan Ari akhirnya memilih sosok Liem Swie King. Mereka termasuk orang yang dengan setia menyaksikan aksi King pada era 1970-an. Tidak hanya itu, mereka melakukan survei untuk menilai kelayakan King sebagai tokoh yang dipilih. Kebetulan, Nia sempat menjabat Humas PB PBSI di masa kepengurusan Sutiyoso yang berakhir pada 2008.
King, pemain yang lahir di Kudus, Jawa Tengah ini namanya melejit sejak mampu menantang Rudy Hartono di final All England 1976 di usia ke-20. King lantas menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan bulu tangkis paling bergengsi di dunia tersebut.
King yang punya nama Indonesia Guntur itu ikut menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978 dan enam kali membela tim Piala Thomas. Bersamanya, tiga kali Indonesia sukses menyabet Piala Thomas. "Ternyata, kisah hidupnya benar-benar menarik. Makanya, kami yakin, film ini akan menarik perhatian penonton," ujar Nia.
Di film itu, berkisah seorang ayah bernama Sambas dan putranya, Guntur, yang begitu cinta bulu tangkis. Sambas bukan siapa-siapa. Dia cuma komentator pertandingan bulu tangkis antarkampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan membuat shuttlecock. Dia sangat mencintai bulu tangkis, utamanya Liem Swie King, sang idola.
Mendengar cerita ayahnya tentang King, Guntur (diperankan Rangga Raditya) bertekad menjadi pemain hebat. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada di hadapannya, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulu tangkis.
Dalam pembuatan film tersebut, Nia dan Ari mengalami kesulitan mencari pemeran. Maklum, Ari sengaja membuat film itu diisi para pemain bulu tangkis sungguhan. Mulai King sendiri, Ivana Lie, Rosiana Tendean, sampai Maria Kristin. Pemeran utama Guntur pun sengaja dicari dari anak umur sekolah dasar yang piawai main bulu tangkis.
"Sudah beratus orang yang diaudisi, tapi rasanya kurang ada yang cocok. Akhirnya, kami ketemu Rangga yang memiliki karakter wajah yang cocok. Sedikit kampung begitu," ucap Ale sambil tertawa.
Lokasi yang dipilih untuk memperkuat jalan cerita kebanyakan berada di Jawa. Mulai Kudus, Banyuwangi, Situbondo, hingga Bondowoso dengan syuting 28 hari.
Rencananya, film KING diputar perdana pada 25 Juni di Jakarta. Meski begitu, Ale menyebutkan, film KING bukan otobiografi sang legenda. Melainkan hanya mengambil spirit dari King yang membawanya menjadi juara dunia dan punya pukulan berjuluk King Smash.
King yang tetap bersahaja dan lemah lembut itu tidak menolak ketika Nia dan Ale meminta izin mengambil kisahnya sebagai sumber cerita film yang akan dibintangi Wulan Guritno dan beberapa pemain cilik itu. "Saya melihat pesan di film ini bertujuan mulia. Saya rasa baik," ucapnya. Delia Mustikasari
Label:
feature
Langganan:
Komentar (Atom)
